Cerita

Alka, Maafkan Ayah

Pagi ini cukup tenang, hanya ada beberapa pengendara dengan berbagai masker yang lalu lalang di jalanan. Pandemi cukup mengantarkan kesedihan di negeriku. Kesedihan yang sampai hari ini, detik ini masih mengambang dan belum tahu kapan akan beranjak pergi.

Seperti biasa, aku juga sudah bersiap dengan aktivitasku. Sudah siap sedia berkecimpung dalam fananya dunia nan keras penuh derita ini.

Senangnya bagi mereka yang sudah menikmati masa hening di rumah selama beberapa bulan belakangan. Mungkin tidak akan merasakan apa yang aku rasa pagi ini dan pagi-pagi sebelum hari ini.

Kadang rasa sedih yang mendalam ikut menyelinap membawa rasa takut ke dalam relung iman. Namun, sekali lagi cinta menggugah semangatku.

Di beberapa kesempatan aku selalu bertanya. Kenapa? Kenapa kami yang harus berdiri di sini. Di bagian terdepan bala perang untuk menghadapi pandemi.

Lamunanku terhenti ketika suara tangis anak laki-lakiku yang mungkin terbangun karena suara motor bututku yang berisik. Ku lihat dari luar istriku yang dasteran berlari ke kamar dan kemudian ke luar dengan menggendong bayiku yang baru saja memasuki umur dua belas bulan dalam minggu ini.

Ku lihat bibirnya yang merengek dan popoknya yang menggembung. Mungkin, inilah penyebab ia terbangun dari tidurnya dan ditambah bunyi motorku yang sama sekali tidak enak untuk didengar.

“Da, bantu pegang Alka dulu bentar,” kata istriku sambil menyodorkan Alka anakku tanpa menunggu jawaban dariku. Ku terima dengan sedikit menyimpul senyum padanya dan dibalas dengan tawa kecilnya yang persis seperti saat aku pertama kali kenal dirinya. Tawa yang sama dengan tawanya yang meluluhkan hati bekuku dan seakan menyiram benih, cintaku padanya pun bersemi.

Duh anakku sayang batinku. Maafkan ayah yang membuatmu menikmati masa kecil serba kekurangan. Ku lihat juga istriku berlari ke dapur dan kembali dengan segelas kecil kopi hitam untukku. Ah cinta, kamu rela memancing marahku hanya demi membuatkan secangkir kopi hitam kesukaanku.

Sungguh, pandangan ini membuat hatiku teriris. Sekali lagi aku mengucap maaf di dalam hati. Kepada mereka, dua orang yang membuatku bersemangat setiap pulang ke rumah.

Namun, aku masih belum bisa memberikan yang terbaik. Ku sembunyikan genangan air mata yang sepertinya mulai membuat bulir dengan memutar tubuh dan berpura-pura melap motor bututku.

“Da, Minum dulu kopinya, ntar keburu dingin jadi gak enak,” ucap istriku yang sepertinya tahu ku menyembunyikan air mata.

Dia masuk menggendong Alka dan kembali membawa beberapa biskuit sisa kemarin malam. Biskuit lima ribuan yang sengaja ku belikan di warung depan untuk Alka dan istriku.

Ternyata sengaja disisakan kembali untuk camilanku pagi ini. Ah pujaanku, andai engkau tahu betapa hancurnya hatiku sebagai laki-laki yang dulu memintamu pada orangtuamu. Kini justru belum mampu membuatmu bahagia. Kembali beberapa sesak ku kubur di dada.

Ku comot satu biskuit ku celupkan ke kopi, perlahan ku suap ke Alka. Ku lihat gerak kakinya bahagia digendongan saat ku suap biskuit itu.

Istriku hanya memandang dan tersenyum. Ku ambil satu lagi, ku celupkan ke kopi dan ku suapkan ke istriku. Wajahnya langsung tersipu malu dan merona.

Digigitnya separuh dan tanpa aba-aba ku lahap bekas gigitan rotinya. Ku akhiri romantisme pagi ini sambil menyeruput kopi buatannya. Ku kecup keningnya dan ijin pamit berangkat kerja.

Ku usap kepala Alka dan mencubit hidungnya. Sedikit hangat dari biasanya. Mungkin karena baru bangun tidur dan efek baru saja menangis pikirku.

“Jangan nakal di rumah ya sayang,” kataku padanya disusul kecupan di pipinya. Alka langsung bergerak aktif seperti ingin ikut denganku.

“Dadah Ayah..” ucap istriku sambil melambaikan tangan Alka. Akupun berlalu dengan motor bututku.

***

Sepanjang perjalanan menuju puskesmas tempatku mengabdi sebagai tenaga kesehatan. Aku beberapa kali menghela nafas panjang. Kata maaf selalu mengalir dari mulutku untuk dua orang yang melepasku pagi ini.

Alka dan Istriku. Sesampainya di halaman puskesmas, aku di tes suhu tubuh, diberi masker oleh rekan yang piket pagi ini. Sejak pandemi melanda negeri ini. Aku sedikit sibuk dan sangat rentan.

Di puskesmas tempat ku mengabdi, sudah ada satu rekan kerja yang diisolasi mandiri karena tertular dari pasien yang datang. Tertular karena pasien tersebut tidak jujur saat dilakukan pemeriksaan.

Aku juga sempat di tes karena cukup beberapa kali melakukan kontak dengan rekanku yang tertular. Beruntung dari dua tes umum yang dilakukan hasilnya negatif. Aku juga sempat khawatir dengan istri dan anakku waktu itu. Sekali lagi, aku bersyukur hasil tes mereka negatif.

“Da, ada pasien baru da,” kata Vano rekan kerjaku yang baru saja melakukan cek suhu kepadaku.

“Innalillah,,” aku sedikit shock mendengarnya. Vano menjelaskan kronologi dari pasien yang ia sebutkan tadi. Pasien kedua dalam minggu ini begitu ia mengakhiri obrolan.

Aku dan Vano bergegas ke ruang ganti. Menggunakan masker, sarung tangan dan face shield yang tersedia di lokerku. Ku lihat ke luar jendela.

Belakangan ini puskesmas tempatku bekerja sudah sangat sepi sekali. Hanya ada beberapa pasien yang dirawat inap. Beberapa diantaranya yang benar-benar harus ditangani secara tepat dan cepat.

Pihak puskesmas memang merekomendasikan mereka untuk dirawat di rumah saja. Ini dilakukan untuk mengurangi penularan pandemi. Beberapa pasien sempat tidak terima, namun akhirnya mereka menyerah dan mengikuti protokol yang dianjurkan.

“Tuuut,” suara getar gawai mengejutkanku. Ada pesan instan dari istriku.
“Da, Alka suhu tubuhnya tinggi.” Begitu bunyi pesan instan di gawaiku.

Segera ku telepon balik istriku.
“Kenapa Alka Ma,” tanyaku memburu. Istriku baru saja menjawab salamku di ujung sambungan telepon.

Aku segera berlari ke luar ruangan. Membuka APD yang belum lama ku kenakan. Beberapa rekanku terlihat bengong dan berusaha menanyakanku. Aku terlalu panik untuk menjawab pertanyaan mereka.

“Gak tahu Yah, Suhu Alka tiba-tiba saja naik dan rewel,” jawab istriku. Nadanya sudah mulai tidak karuan. Ditambah suara tangis Alka yang kencang dipangkuannya menambah kepanikannya.

Tanpa aba-aba ku pacu motor bututku menuju rumah kontrakanku yang berjarak 5 kiloan dari puskesmas. Aku langsung memarkir motor buntutku dan meletakkannya begitu saja.

Suara tangis Alka terdengar sampai ke luar rumah. Ku percepat langkahku menuju suara itu. Dan ternyata istriku tengah berusaha menenangkan Alka. Tapi tidak berhasil juga.

“Ma, ayo kita bawa Alka ke puskesmas,” ajakku pada istri yang hampir panik. Ditambah dengan tangisan Alka yang tak kunjung diam.

Sesampainya di puskesmas, Alka langsung diperiksa oleh rekan kerjaku. “Da, Alka harus dirujuk ke rumah sakit, Alka OTG (Orang Tanpa Gejala) Da” kata Vano menjelaskan.

Aku mengiyakan perintah Vano. Demi anakku. Segala prosedur ku lakukan. Alka harus dites swab untuk memastikan virus yang berjangkit ditubuhnya.

Sudah terbayang di benakku betapa sakitnya Alka jika nanti di tes swab. Alat seperti cutton bud dimasukkan ke area belakang hidung dengan sedikit memutarnya untuk mendapatkan sample cairan atau lendir.

Kemudian cairan tersebut dibawa ke laboratorium untuk diuji keaktifannya. Mesti menunggu hasil berjam bahkan berhari untuk menunjukkan hasilnya.

Aku dan istriku hanya bisa menunggu di luar. Ia hanya mematung di balik pintu ruangan di mana Alka harus di tes swab. Sesekali ia menyeka buliran air mata yang jatuh membasahi pipi merahnya itu.

Aku berusaha menenangkan istriku meski di dalam batinku memberontak. Teriakan tangisan Alka memecah ruangan itu. Sang istri mendekapku erat menyembunyikan derasnya tangisan pilu dibalik kemeja kotak-kotak yang ku kenakan waktu itu.

Aku pun merangkulnya erat, tak tega mendengar jeritan Alka seakan minta tolong dengan memanggil Ma…
Alka diisolasi di rumah sakit sambil menunggu hasil tes swabnya ke luar. Aku berharap hasil tes tersebut negatif. Sambil menunggu lima hari lamanya akhirnya hasil tes Alka ke luar.

Alhamdulillah, hasilnya negatif. Saat di rumah sakit Alka memang tidak menunjukkan gejala umum Covid-19 apapun dan kondisinya juga sehat. Dokter menyatakan Alka sembuh dan menyarankan pulang untuk melakukan karantina mandiri.

Aku lega dengan kabar ini. Istriku juga menyambutnya dengan gembira. “Alhamdulillah ya Da,” sambil sujud syukur di lantai rumah sakit.

***

Berselang dua hari mengarantinakan diri di rumah, istriku juga menunjukan tanda-tanda gelaja Covid-19. Suhu tubuh sang istri 38◦. Kekhawatiran selama ini terjadi juga pada keluargaku.

Istriku segera dirujuk ke rumah sakit. Melakukan tes swab yang sama dijalani oleh Alka. Pikiranku kacau, tidak karuan. Dua orang yang ku cintai sedang bertarung menaruh nyawa.

Alka yang diisolasi mandiri sedangkan istriku PDP (Pasien Dalam Pengawasan) karena berdampingan dengan anakku. Aku tertunduk lemas terisak tangis dalam diam.

Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi sudah memenuhi memori otakku. Aku kalut tak menentu. Separuh ragaku seakan hilang melayang. Bagaimana jika istriku positif? Dan bagaimana dengan Alka yang membutuhkan ibunya?

Aku harus menjadi ayah yang tegar buat istri dan anakku. Meskipun batin ini menolak menerima kenyataan yang ku hadapi. Tanpa terasa air mata jatuh ke bumi membasahi pipi Alka yang tertidur pulas dipangkuanku.

***

Pagi ini, aku harus masuk dinas. Alka ku titipkan pada bu Ani tetanggaku yang sudah ku anggap ibu kandungku. Alka belum sempat ku mandikan kerena bangun ke siangan.

“Bu, Alka ku tinggal dinas dulu ya. Baju dan perlengkapannya sudah ku letakkan di atas meja,” sambil mengecup kening putraku itu.

Sesampainya di puskesmas, gawaiku berdering. Nama Bu Ani tertulis jelas pada beranda telepon masuk. Segera ku angkat telepon darinya.

“Aldi, cepat pulang!” itulah kata yang ku cerna di seberang sana. Tanpa pikir panjang kembali ku pacu motor buntutku.

Ku lihat di depan kontrakanku sudah dipenuhi oleh warga. Apa yang terjadi? Sejuta pertanyaan menghampiri. Bu Ani berlari mengejarku yang masih berdiri kaku di depan pintu.

“Aldi, sabar ya nak?” matanya yang sembab berkaca-kaca sambil mengusap-usap punggungku. Aku tidak mengerti apa maksud perkataan bu Ani. Aku dituntun oleh bu Ani masuk ke dalam.

Orang-orang yang berada di dalam ruangan terpana melihat ku.
Tatapanku tertuju pada Alka yang sudah tidak bergerak di atas kasurnya. Aku tidak percaya dengan apa yang terjadi. Rasanya baru tadi pagi ku lihat putraku merengek minta susu. Sekarang tak ada lagi tangisan itu.

Ku peluk erat anak yang menginjak satu tahun itu. Meratapi kesedihan yang tidak bisa ku bendung lagi. Jika saja ayahmu ini tidak pergi bekerja pagi tadi, mungkin kejadiannya tidak seperti ini.

Apa yang mesti ku katakan pada ibumu. Sungguh aku bukan ayah yang bertanggung jawab. Bu Ani mencoba menenangkanku sambil memeluk Alka yang terbujur kaku dipangkuanku.

Afriant Ishaq

Founder guntal.com yang merangkap jadi kuli di dunia nyata akibat efek stigma bahwa di depan komputer itu main bukan kerja.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button