Pendidikan

Keputusan Sekolah Kembali di Buka. Apakah Hanya Wacana Semata?

Buk kapan kita masuk sekolah? Kami sudah bosan di rumah. Rindu sekolah Buk…

Peserta didik

Itulah pertanyaan yang sama memenuhi halaman chat WAG saya sepekan ini. Tak banyak yang dapat saya beritahukan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dari mereka selain menunggu hasil keputusan pemerintah.

Dampak dari virus corona yang tengah mewabah mengharuskan siswa belajar di rumah dengan metode WFH. Belajar di rumah ini sudah dijalani lebih kurang 2,5 dan hampir memasuki 3 bulan. Sejak diberlakukannya belajar di rumah pada akhir Maret 2020.

Berbagai kendala dan sekelumit permasalah datang menghampiri. 4 hal menjadi penghambat pembelajaran WFH dalam dunia pendidikan saat covid 19 menjadi raja. Terlepas dari itu semua, saya atau kami sebagai pendidik berusaha mencarikan solusinya agar belajar di rumah tetap terlaksana.

Kini pelaksanaan ujian akhir semesterpun dilakukan lewat daring. Ini dilakukan sebagai salah satu syarat kenaikan kelas. Kendala dan masalahnya masih berada pada keterbatasan ekonomi orang tua siswa yang tidak memiliki hp sebagai alat untuk ujian semester. Lagi-lagi keterbelakangan ekonomi menjadi penghambatnya.

Sebagian sekolah juga sudah melaksanakan Penerimaan Peserta Didik Baru secara online. Cara ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadian social distancing. Meskipun sekolah telah menerapkan cara tersebut, ada juga kendala yang kami hadapi. Minimnya wawasan orang tua siswa yang melakukan pendaftaran lewat online. Terlebih lagi bagi siswa SD yang ingin melanjutkan ke tingkat SMP. Tak heran banyak dari orang tua siswa yang datang ke sekolah hanya untuk sekedar bertanya.

Pada beranda formulir tersebut sudah terpapar jelas secara jelas. Namun, pemahaman orang tua masih awam tentang bagaimana mengisi formulir lewat pendaftaran online. Untuk mengatasi serbuan massa dari para orang tua yang ingin bertanya tentang cara pendaftaran, kami memberi ketegasan agar mereka mematuhi protokol kesehatan.

Kembali pada topik semula, siswa yang mempertanyakan kapan sekolah di mulai. Akhir-akhir ini pemerintah tengah disibukkan dengan keputusan mereka untuk mengambil kebijakan kapan sekolah di mulai. Berbagai pendapat, asumsi dan negosiasi mulai bermunculan.

Ada yang mengatakan sekolah di mulai pada awal tahun ajaran baru dengan syarat daerah mereka berada pada zona hijau. Ada pula opini yang menyebutkan sekolah di buka kembali pada Januari 2021. Terkait virus corona bagi daerah mereka yang berada pada zona oranye dan merah. Redaksi tersebut masih simpang siur atas kebenarannya.

Seperti data yang saya dapatkan dari kompas.com. Federasi Serikat Guru Indonesia ( FSGI) menilai rencana pembukaan sekolah untuk kegiatan belajar mengajar di masa new normal harus memperhatikan banyak hal. Hal itu kepentingan keselamatan nyawa siswa, guru, kepala sekolah, dan tenaga pendidikan lainnya.

Seandainya memang sudah diputuskan (pembukaan sekolah) berbasis data yang jelas bersama Gugus Tugas covid-19 dan sekolah dibuka maka protokol harus sangat ketat. Jika komunikasi, koordinasi, dan pendataan sudah benar-benar valid dan meyakinkan sehingga pemerintah membuka sekolah pada pertengahan Juli di zona hijau, maka tugas dinas pendidikan dan sekolah harus menyiapkan berbagai sarana kesehatan pendukung.

Wakil Ketua FSGI, Satriwan Salim dalam wawancaranya pada kompas.com Kamis (4/6). Beliau mengatakan bahwa ada 4 hal yang mesti disiapkan. Apa saya yang harus disiapkan simak ulasannya.

Yang pertama, regulasi terkait pembukaan sekolah terkait metode pembelajaran, pengaturan kelas, dan protokol kesehatan di sekolah.

Kedua, terkait anggaran. Pemerintah pusat dan daerah juga mesti menyiapkan anggaran terkait pelaksanaan protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19 di sekolah. 

Ketiga, terkait infrastruktur dan penanggung jawab serta sumber anggaran. Ada juga persipan infrastruktur penunjang kebersihan dan kesehatan seperti alat pelindung dasar, tempat cuci tangan, hand sanitizer masker, dan lainnya. 

Keempat, kesiapan SDM yaitu guru. Bagaimana pengelolaan belajar di masa pandemi. Perlu diberi pemahaman kepada gurunya misalnya pelatihan. Ada kesamaan pandangan guru, siswa, dan orangtua.

Nah, keempat hal yang disebutkan di atas merupakan pr bagi pemerintah. Apakah keputusan yang mereka ambil nantinya sudah dipertimbangkan dengan matang. Misalnya saja, jika sekolah kembali dibuka setiap sekolah harus menjalanlan protokol kesehatan dengan ketat. Seperti; harus menyiapkan hand sanitizer di tiap ruangan; sabun cuci tangan; perbanyak keran cuci tangan; semua warga sekolah wajib mengenakan masker; penyediaan APD di UKS/klinik sekolah.

Bagaimana dengan mereka yang tinggal di zona merah dan bersekolah di zona hijau. Apakah mereka steril dari covid? Ini jelas menyalahi aturan yang dibuat. Lalu salah satu syarat untuk mengahadapi new normal adalah melakukan rapid tes. Pemerintah kota/kabupaten mulai menggalakan tindakan tersebut. Ok gurunya melakukan rapid tes. Lantas bagaimana dengan siswanya? Siswa dengan jumlah hampir ribuan dalam satu sekolah. Jika ini dilakukan, anggarannya dari mana?

Menurut saya untuk kembali pada new normal tidak cukup dengan rapid tes karena hasil yang didapatkan masih asumsi. Jika ingin mencek apakah kita terkena covid atau tidak maka jalan yang harus ditempuh adalah menjankan swab tes. Sanggupkah pemerintah menjawab itu semua. Kita hanya menunggu saja. Mudah-mudahan keputusan yang mereka ambil tidak merugikan banyak pihak.

Ini adalah beberapa rancangan syarat pembukaan sekolah di zona hijau yang masih dikaji yang saya kutip pada laman kompas.com.

  • Ketersediaan fasilitas sanitasi kesehatan dan kebersihan
  • Menjaga jarak peserta didik 1,5-2 meter di kelas
  • Pembatasan isi ruangan kelas (15-18 siswa)
  • Pembatasan jam belajar siswa
  • Penerapan wajib masker
  • Kecukupan jumlah guru yang masuk batas usia dan tidak rentan
  • Peniadaan aktivitas di kantin sekolah
  • Peniadaan aktivitas pertemuan orangtua dan guru di lingkungan sekolah
  • Peniadaan aktivitas siswa berkumpul dan bermain di sekolah
  • Peniadaan aktivitas ekstrakurikuler

Semoga saja keputusan pemerintah terutama menteri pendidikan tidak salah arah. Mengingat nyawa guru, siswa dan orang-orang yang berada pada lingkungan tersebut. Nah, bagi siswa ibu yang masih mempertanyakan kapan mulai sekolah, kita tunggu saja keputusan pemerintah yang menyanggupi syarat normal baru di sekolah.

Afriant Ishaq

Penulis yang malas menulis. Suka menulis sesuatu yang beraroma pendidikan, remaja dan gaya hidup.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button