CeritaLiterasi

Kutil Terkutuk

Afika sedari tadi memerhatikan kutil yang berada di telapak tangan kanannya. Awalnya hanya satu buah sebesar biji kacang ijo. Sekarang mucul satu lagi ukurannya agak kecil dari itu.

Ia ingin menceritakan hal ini kepada orangtuanya, niat ini kecut setelah membayangkan betapa sakitnya jika dioperasi. Pikirannya menggambarkan jika dioperasi, kutilnya akan dibelah menggunakan pisau tajam, diangkat dan dibuang. Hiii…perih, Afika jadi merinding.

“Biar aja deh, tu kutil tumbuh di situ. Lagian nggak terlalu mengganggu juga. Tumbuhnya di sela jari telunjuk dan tengah, kalau salaman kan nggak keliatan,” pikir Alifa.

“Kutil itu apaan si kak?” tanya Raka adiknya Afika yang sedari tadi mengamati kakaknya.

“Ini lho yang namanya kutil,” sambil menunjukkan benda aneh yang tumbuh di telapak tangan kanannya.

“Hiii, kok kayak jerawat ya kak,”

“Ma, kakak punya kutil,” teriak Raka.

Belum sempat Raka mengucapkan kata itu, mulutnya sudah ditutup oleh kakak yang kini beranjak SMA itu.

“Ssstttt, Raka kamu jangan bilang sama Mama,” sambil melototkan matanya kepada Raka.

“Kakak takut ya, kalau dioperasi,” ledek Raka.

“Iya deh kak, Raka nggak akan bilang ke Mama, tapi dengan syarat beliin dulu Raka mainan robot ya, ucap Raka dengan nada memelas.

“Oke kakak turutin, tapi ingat jangan bilang ke . . .”

“Mama,” sambung Raka.

Merasa resah dengan kutilnya, Afika menceritakan daging yang tumbuh di tangannya itu pada sahabatnya Bella.

“Bel, kalau kutil ini dioperasi sakit nggak,” tanya Afika.

“Setahu ku kalau kutil itu dioperasi nggak bakalan sakit tau. Zaman udah canggih gini dengan alat yang sudah teruji kali Ka,” Bella memberikan opininya.

“Nggak, nggak, nggak, sekali nggak, tetap nggak,” tegas Afika.

“Trus kutilmu itu mau diapain? Berobat ke dukun atau berobat ala tradisional?” Bella memberikan pilihan.

“Emang bisa? Nggak dioperasi kan?”

“Nggak lah! Ntar kutilmu dielus-elus, trus disembur . . . huff . . .! Langsung nambah! Hahahaha . . .!” Bella tertawa terpingkal-pingkal.

“Aku serius Bel, malah diajak becanda.”

“Habis kamunya si, dikasi solusi malah ngeyel,” terang Bella.

“Gimana jika kita tanya aja sama tante Ira, mamanya Aldo,” Bella memberikan solusi.

“Gila kamu ya Bel, nggak ah. Tante Ira kan dokter. Ntar aku disaranin tuk operasi lagi. Nggak mau ah, mending ku simpen aja ni kutil rapat-rapat”.

“Dasar kutil, kok kutil diperihara?”

***

Sesuai perjanjian semalam lewat telepon, Afika dan Bella berniat untuk menelusuri tempat pengobatan alternatif. Mereka berjanji bertemu di depan pelataran toko dekat pasar. Bella mendapatkan secarik kertas berisi keterangan tentang pengobatan alternatif yang dibagikan oleh seseorang di perempatan jalan menuju pasar kemarin sore.

Pada selebaran itu tertera alamat lengkap si ahli pengobatan alternatif. Namanya Sulaiman. Ia ahli dalam mengobati berbagai macam penyakit yang tertera pada kertas itu.

Afika menajamkan matanya melihat sederet jenis penyakit yang tertulis pada kertas itu.

“Kok kutil nggak ada?” terang Afika setelah membaca brosur itu.

“Bacanya yang bener dong!” perintah Bella.

“Mana, nggak ada kutilnya Bel,” sambil melihatkan brosur tersebut.

“Ini kan ada DLL, berarti itu masuk daftar penyakitmu,” jelas Bella.

Afika hanya menganguk-anggukkan kepalanya seakan mengerti penjelasan dari Bella.

“Gimana, jadi nggak kita ke sana?” ajak Bella.

“Jadi dong Bel, udah nggak sabar pengen musnahin kutil terkutuk ini.”

***

Akhirnya ketemu juga alamat yang tertera pada kertas itu. Setelah berkeliling cukup lama bertanya sana-sini pada masyarakat yang tinggal di tempat itu. Seseorang telah menunjukkan alamat si ahli pengobatan alternatif itu.

Belum sampai masuk pekarangan rumah si ahli pengobatan tampak antrian panjang dari orang-orang yang tengah berobat padanya. Ada sekitar sepuluh orang lebih yang menunggu giliran untuk dapat masuk pada ruang si ahli obat.

“Kalu kayak gini kapan giliran kita Bel,”

“Kamu mau kan kutilmu itu ilang, jadi kudu sabar nunggu,” jelas Bella.

Setelah mendaftar, mereka menunggu nomor antriannya tiba. Dua jam sudah mereka mengantri demi memusnahkan kutil ini. Sampailah giliran pada mereka.

Mulanya si ahli pengobatan menanyakan keluhan pasiennya. Afika agak sedikit takut melihat perawakan si tukang pengobatan yang berjenggot hampir menutupi bibirnya.

Sambil memegang tangan yang ditumbuhi kutil itu, si ahli tadi mengatakan jika kutil ini hanya akan punah bila dioperasi. Sontak Afika terkejut mendengar penjelasan si ahli tadi.

“Yah, udah capek-capek ngantri, ujung-ujungnya operasi juga,” sesal Afika.

Kutil, oh kutil … 😢

Fide Baraguma

Ibu dua jagoan yang hobi menulis dan suka menulis banyak hal sekaligus founder baraguma.com.

Related Articles

One Comment

  1. Hahaha, kutil, sekarang ada lho plester khusus, tapi kayanya si untuk mata ikan, bukan kutil. Kutil harus operasi si.
    Tapi kalau mata ikan bisa pakai plester tanpa operasi. Mudah2an seiring waktu juga ditemukan plester untuk kutil.

    Masa iya, operasi kutil ke RS, sdgkan jaman skr RS resiko tinggi buat terinfeksi corona.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button