Cerita
Trending

Maafkan Anakmu Ibu Bagian Kedua

Sudah hampir enam bulan lebih anak sekolah seperti Ridho belajar daring di rumah. Belajar online via gawai dan beberapa aplikasi telekoferensi yang menurutku sangat membosankan.

Ridho yang sedari tadi melambai dari jendela terlihat berisi beberapa bulan belakangan ini. Mungkin efek belajar di rumah dan kurangnya berpikir.

Maklum, beberapa tugas yang diberikan melalui daring sangat mudah menjawabnya. Bahkan tinggal ketik di google, salin dan kemudian tempel ke google formulir yang disediakan.

Duh pikirku anak sekarang itu belajarnya mudah sekali. Apalagi sekelas Ridho yang cukup memiliki perlengkapan untuk belajar online. Mulai dari gawai yang mumpuni hingga jaringan wifi yang tersedia di rumah.

Lamunanku kembali buyar setelah pesan whatsapp dari si anak manja pak Andi. Ia tersenyum sambil ngacungin jempol ke arahku. Setelah kubaca pesan darinya.

Seperti biasa, Ridho ngajak aku main dan tidur di kamarnya. Aku cukup heran dengan kebiasaan Ridho yang terkesan rumahan sekali untuk anak seusianya.

Aku sendiri sebenarnya bosan harus di kamar terus sambil main game di PC sampai berjam-jam. Tidak ku lihat bosan itu pada Ridho yang habiskan waktu buat ngegame dari maghrib hingga tengah malam tiba.

Ah Ridho, andai hidupmu sama seperti hidupku. Aku bergumam desah sambil mengangguk dan membalas jempolan Ridho.

***

Jam di dinding atas toko sudah menunjukkan angka empat. Itu artinya jam dinasku di toko pak Andi sudah usai. Aku pamit pulang kepada pak Andi, baru mau melangkah pulang. Gawaiku berbunyi, ada pesan dari Ridho.

“Kak, mandi di sini aja. Gak usah balik ke rumah,” tulis Ridho

Aku teringat sama ibu dan belum ijin kepada beliau. Ku balas pesan Ridho dan mengatakan padanya habis maghrib aku datang.

Dari sudut sana dijempoli lagi oleh Ridho. Ku lihat masih seperti tadi, tak berkostum alias telanjang dada. Aku bergerak pulang.

Baru beberapa langkah, aku teringat minyak tanah untuk lampu di rumah sudah habis. Aku kembali dan membeli dua liter minyak tanah ke pak Andi dan membayarnya.

Awalnya pak Andi gak mau menerima uang dariku. Tapi ku tinggal begitu saja di meja dan kemudian kabur.

Ku dengar beberapa kali pak Andi memanggil namaku. Aku pura-pura tak mendengarnya dan tersenyum sambil berlalu.

Ah pak Andi, kenapa beliau terlalu baik. Aku takut berhutang budi padanya, pada bu Ani dan juga Ridho anaknya. Aku takut terbiasa dan justru jadi tergantung padanya.

***

Sampai di pematang sawah beberapa meter dari gubuk tempatku tinggal. Ku lihat gubuk terang-benderang ada lampu di luar di dekat pintu masuk.

Lampu listrik tanyaku dalam hati. Siapa yang memasangkan lampu listrik PLN ke gubukku?

Ku percepat langkahku sambil menenteng plastik isi minyak tanah dua liter tadi. Ku ketuk pintu, ibu menyambutku bahagia. Memelukku yang masih belum percaya dengan lampu yang bertengger tepat dikepalaku dan di dalam gubuk.

“Bu, siapa masang listrik ke rumah bu?” tanyaku pada ibu yang matanya berkaca-kaca.

“Pak Andi nak,” jawab ibu sambil mengusap matanya.

Duh, pak Andi kenapa begini baiknya engkau kepada kami? Sungguh aku takut akan hutang budi ini pak. Aku benar-benar lirih dan kembali memeluk ibu.

Tangis ibu kembali buncah. Aku mencoba mengusap punggung ibu beberapa kali. Hingga beliau tenang kembali.

Ibu cerita padaku, kalau pak Andi bilang bahwa aku pasti tidak akan terima kalau listrik ini diberikan gratis pada ibu.

Oleh karena itu, jika Defan nantinya mau bayar, silakan dibayar. Tapi kalau gak, ya gak apa-apa juga sambung ibu.

Ibu juga bilang, ini sudah niat pak Andi dari dulu. Rencana awal beliau mau membiayai uang sekolahku. Berhubung aku tidak mau, maka dialihkan saja ke listrik.

Aku jelaskan pada ibu, ntar gaji ku dipotong saja. Jujur aku sangat malu jika harus dibantu terus sama pak Andi. Meski pak Andi membantu dengan tulus.

Itu terlihat dari bantuan beliau yang tidak hanya pada kami, aku dan ibu. Bu Isah juga kerap dapat bantuan uang oleh pak Andi. Bu Isah sendiri yang bilang kepada ibu di depanku.

Bersambung…

Afriant Ishaq

Founder guntal.com yang merangkap jadi kuli di dunia nyata akibat efek stigma bahwa di depan komputer itu main bukan kerja.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button