LiterasiPuisi

Menyeduh Luka

Hujan itu turun
Saat tawa ku menggelegar
Selalu begitu
Dan selalu begitu
Senyumku
Hanyalah cindera pembalut duka
Kadang harus berdusta

Pada hati
Pada jiwa
Bahkan pada raga
Lalu Aku bisa apa?

Rumahku di sini
Tempatku di sini
Dan mungkin kuburanku juga di sini

Tak ingin bercerita
Tapi hati hampa
Hanya ingin tertawa

Tapi luka terus meronta
Bunga
Kenapa Kau beri kecewa
Setelah semua telanjangku padamu

Bunga
Kenapa Kau beri luka
Setelah semua waktuku ku simpan untukmu

Kau
Ku pilih karena asa
Asa ingin bahagia

Tapi mengapa
Lagi-lagi duka

Aku ibarat menyeduh luka
Makin lama
Makin kentara

Ditulis oleh Afriant Ishaq

Afriant Ishaq

Founder guntal.com yang merangkap jadi kuli di dunia nyata akibat efek stigma bahwa di depan komputer itu main bukan kerja.

Related Articles

2 Comments

  1. Bagian bait terakhir, mungkin typo kak. Menyeduh luka bukan maksudnya? hehe

    Saya juga hobi bikin puisi begini, rasanya melegakan sekali. Kadang apa yang tertulis itu maknanya beda sekali dengan apa yang saya rasa.

    Puisi itu ibarat wadah pelampiasan emosi, emosi tidak melulu perihal amarah sih. Emosi bahagia juga bisa kita tumpahkan pada wadah yang disebut puisi. Menulis puisi memang mengasyikkan. hihi

  2. Oh iya Maaf typo Kak.

    Ya Kak, Kalau sudah ada puisi biasanya ide lagi mentok Kak.

    Jadi lampiadkan saja ke puisi. Kadang berbeda arti dr sudut pandang pembacanya Kak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button