CeritaLiterasi

Si Tomboi Raina

Siapa yang tak kenal Raina siswa tomboi kelas VIII.4 berlesung pipi. Meskipun tomboi, ia anak yang pintar, mempunyai banyak teman laki-laki dan selalu bikin heboh di kelas. Kalau tidak ada Raina tidak rame. Ia adalah anak tunggal dari orangtua yang sibuk bekerja ke luar kota. Kesehariannya hanya ditemani oleh sang nenek. Aku teman dekatnya Raina sering mengajaknya untuk tidur di rumahku. Kami bak sepasang kekasih yang selalu setia bersama. Dimana ada Naira di situ pasti ada Raina.

Raina tinggal bersama nenek di rumah ya. Mama dan papa ada tugas ke luar kota. Begitulah Raina menirukan gaya ibunya membuka pembicaraan dengan ku di kelas waktu itu. “Aku benci mama dan papa Nai,” sambil memelukku dan melampiaskan kekesalannya. Ia pernah curhat kepadaku bahwa ia menginginkan sosok seorang ibu yang perhatian dan selalu ada untuknya. Ia juga sempat bilang, jika iri melihatku dengan sosok ibuku yang selalu ada untukku. Sebagai sahabat, aku berusaha menenangkan Raina. Dada Raina semakin sesak, penyakitnya kambuh lagi. Aku segera memberinya alat bantu pernapasan yang ku ambil dari saku tasnya.

Penyakit asma yang meronggoti Raina telah mendarah daging sejak ia berumur 10 tahun. Inilah yang aku cemaskan setiap kali orangtuanya bertugas ke luar kota. Tapi Raina si anak mandiri mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Tak perlu mencemaskannya karena ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Ia juga mengatakan bahwa ada nenek yang selalu setia menemaninya. Butiran air mata itu jatuh membasahi potret kenanganku bersama Raina tepat satu bulan ia berada di surga.       

Fide Baraguma

Ibu dua jagoan yang hobi menulis dan suka menulis banyak hal sekaligus founder baraguma.com.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button