Puisi

Sudah, Jalani Saja Naskah Dramamu

Jalani saja
Mana tahu bahagia

Jalani saja
Mana tahu ending nya luar biasa

Kamu hanya boneka
Yang hanya bermain peran dalam drama

Dengan naskah yang sudah ada
Lalu kenapa harus meronta?

Drama mu baik
Hasil peran mu yang apik

Bagaimanapun kamu berusaha
Merubah narasi

Melakukan improvisasi
Jika kamu mati di episode awal

Tetap saja kamu harus mati
Mau lagi rebahan

Atau lagi berlarian mengejar si dia
Berharap di peluk ke dada

Jika mati peran mu
Tetap saja akan mati

Akhirnya
Kamu harus merelakan

Peran mu usai sampai di sini
Tanpa ada penolakan

Penontonmu
Mau kesal, nangis atau bahagia

Tergantung peranmu
Jelang matimu yang hanya se episode itu

Jangan menuntut sutradara
Apalagi penulis naskah dramamu

Sudah
Jalani saja peranmu

Meski hancur
Sehancur-hancurnya

Caramu berperanlah
Nan akan menuai ekpresi

Di wajah-wajah tenang
Di hadapan dramamu yang telah sudah

Afriant Ishaq
Dalam drama yang tak terpentaskan dengan apik
Di sinema yang berjudul Sang pengentas Corona

Afriant Ishaq

Founder guntal.com yang merangkap jadi kuli di dunia nyata akibat efek stigma bahwa di depan komputer itu main bukan kerja.

Related Articles

42 Comments

  1. Hidup di dunia emang kayak lagi jalani peran masing-masing di panggung yaa kak. Kalo udah nerima peran sebagai A yaudah jalani aja takdir sebagai A. Masa iya mau melawan takdir

  2. Kadang kita hidup untuk sesuatu yang tidak sukai. Saat bercermin kepada orang lain yg hidupnya lebih baik, justru semakin berkecil hati dan tidak mensyukuri apa yg sudah dimiliki. Bagus puisinya, penuh makna.

  3. Puisinya sarat makna. Cocoknya buat mereka puan-puan disinggasana. Dari peran pembantu yang berubah menjadi peran utama.

  4. Iya benar sekali, dalam hidup ini kita harus menjalankan peran kita dengan sebaik-baiknya. Tidak perlu mencampuri urusan orang lain. Karena tugas kita adalah menjalankan peran dengan sebaik-baiknya bukan mencampuri urusan orang lain.

  5. Dalam ilmu kejawen, dan mungkin dalam kepercayaan atau agama yang lain juga, manusia itu memang hanya menjalankan saja perannya. Takdir sudah tertulis sejak biji tertanam.

  6. Kita adalah wayang yg digerakan sang Dalang..sayangnya bnyk wayang yang berbuat diluar pakem dan aturan dari sang Dalang..

  7. Tapi jika masih mau berusaha tanpa ingin benar-benar merubah takdir, hanya sedikit mengatur ritme agar nasib bisa berbelok meski hanya 1 cm, apakah tidak apa-apa? Ada rasa keingintahuan yang sangat selama masih di dunia, terutama kenapa harus melewati satu fase atau jalur yang ini, bukan yang itu. Boleh ya, Tuhan?

    Aku berdoa, tidak bermaksud memberontak 🙂

  8. Kehidupan kita adalah sebuah drama dari sang maha Sutradara. Gak penting kamu berperan jadi orang kaya atau miskin, jalani saja garis hidup dari Sang Sutradara.

  9. Iya jalani saja kak dan jalani dengan sebaik baiknya.. bahkan kalau harus meninggalkan peran itu sendirinya

  10. Ya, betul jalani saja peran masing-masing. Tak usah mengeluh gaduh. Tak usah menyalahi sang sutradara. Dia hanya beri bimbingan, selebihnya diserahkan ke diri sendiri…

  11. Seperti motto hidup yang aku pegang "cause life like this", kalo sudah seperti ini ya bukan waktunya bertanya kok gini, bukan waktunya mengeluh karena hidup memang seperti ini. Adakalanya bahagia adakalanya sedih juga.

  12. jadi inget lagu nike ardila ya, "hidup ini adalah panggung sandiwara". jalani hidupmu kalem aja ya

  13. Saya auto inget God Bless, "Dunia ini panggung sandiwara", haha, angkatan jadul. Memang kalau dipikir-pikir kita ini hanya pelakon kok, jalan hidup sudah ditentukan. Bedanya kita masih bisa mengubah sedikit skenario sang sutradara dengan usaha.

  14. Setiap kita lahir, ada naskah yang tercetak dan mengikat kita. Ikuti dan lakukan dengan bahagia. Karena bahagia membuat semuanya jadi mudah. Mau meronta atau berontak juga akan sama seperti naskah tersebut.

  15. jalani saja naskah itu tapi jangan saling menyakiti juga satu sama lain hehe. keren deh puisinya.

  16. Uda Unchu ini pemain teater kah? Saya pernah kepikiran buat naskah teater tapi tidak untuk menjadi pemerannya, karena saya pemalu dasarnya

  17. Haha cukup uncchu aja da Padh,

    Kalau uda trus panggil uncchu jd dua kan ya? Hehe

    Dulu waktu SMA perna Da Padh.

    Gmna Da Padh, bikin teater kita? Hehe

  18. yap jalani saja.saya pernah ada di titik dimana saya sedih bgt kehilangan. tp ternyata hikmahnya, saya mendapat sesuatu yg lebih besar dan sempurna. ah takdirNya begitu indah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button