Maafkan Anakmu Ibu Bagian Pertama

mentari di punggung bukit dalam sepekan ini sudah jarang menampakkan diri. Sekali-kali menyeruak namun kembali dibungkus awan gelap disertai hujan. Petir seakan tak mau kalah, ikut menari-nari dari kaki langit dan sesekali menyambar ke pucuk cemara di ujung kanan.

Suasana seram seperti di film horor lengkap sudah jika hujan turun disertai tarian kilat nan melambai-lambai. Kadang badai ikut menggoyang cemara yang sudah kecemasan melihat awan. Makin gelap dan sangatlah gelap.

Namun tidak segelap di rumah kami. Tepatnya mungkin bukan rumah tapi gubuk di tengah sawah. Lampu minyak seakan-akan tak kuat berdiri diterjang angin yang dibawa badai.

Rumah kami, ah gubuk maksudku. Adalah bangunan tua buatan ayah di tengah sawah milik pak Andi. Gubuk yang lebih tua dari umurku ini sudah semakin tua. Beberapa atap seng bekasnya sudah mulai mengelupas dan memberi ruang air untuk masuk.

Ibu menampungnya dengan ember hitam pecah punya pak Andi yang ditinggal kemarin pagi. Setelah memupuk padi.

Aku dan Ibu hanya tinggal berdua. Ayah sudah lama mangkat. Mungkin sekitar umurku dua tahun waktu itu dan sekarang sudah masuk 17 tahun. Ibu, pernah menikah lagi setelah kepergian ayah di tahun ke tiga. Namun sayang, pernikahan ibu dengan bapak tiriku hanya bertahan dua tahun saja.

Aku tidak tahu apa alasan mereka berpisah. Waktu itu aku hanya melihat ibu menangis dan bersedih selama seminggu. Meski beberapa minggu setelah itu. Ayah tiriku sempat ke rumah. Tapi ibu diam seribu bahasa meski terlihat ayah tiriku berlutut meminta maaf. Tapi ibu tak bergeming.

Ah, masa kecilku cukup mengenaskan untuk ku ceritakan. Ibu, malah menggendongku waktu berumur 3 tahun sambil menanam padi milik pak Andi. Meski sesekali aku dibujuk pak Andi agar turun dari punggung ibu dengan jajanan. Tapi memang dasar aku. Tetap saja bertengger di punggung ibu.

Sekarang aku sudah tujuh belas tahun, meski belum cukup hitungan bulan. Tapi aku sudah terlihat cukup dewasa dari wajah jika dibandingkan dengan anak seumuranku yang masih sekolah.

Aku memutuskan berhenti sekolah setelah menamatkan SMP. Walau ibu memaksaku, tapi aku sangat kasian sama ibu yang sudah sangat menua. Mungkin karena harus bekerja keras demi aku. Jadi terlihat lebih tua dari umurnya.

Beberapa guruku juga ikut memaksaku untuk tetap melanjutkan sekolah. Mereka orang baik yang mau menanggung seluruh biaya sekolahku. Tapi, aku tidak mau menyusahkan mereka.

Pak Andi pemilik lahan juga beberapa kali memaksaku. Dia bilang biar dia yang biayai. Nebeng sama Ridho anaknya yang seumuran denganku. Sekali lagi, aku tidak ingin menyusahkan mereka. Orang-orang baik di sekitarku.

***

Hari ini adalah hari pertamaku bekerja di salah satu toko grosir milik pak Andi. Ia menerimaku bekerja setelah tahu aku sudah berhenti sekolah. Setelah tawarannya agar tetap bersekolah ku tolak dengan halus.

Pak Andi menurutku adalah orang yang baik. Dalam sehari selalu saja memancingku untuk mau bersekolah lagi. Bahkan, aku tetap sekolah dan bekerja dengan beliau paruh waktu.

Ah sudahlah kataku dalam hati. Ketika pak Andi kembali bicara perihal sekolah padaku. Mungkin, pak Andi benar-benar ingin menyekolahkanku. Keluarga mapan ini sungguh terlalu baik. Meski hanya punya anak laki-laki semata wayang saja namun kebaikan mereka tetap dari lubuk hati.

Punya usaha toko grosiran dengan beberapa karyawan ditambah ibu Ani yang ASN dengan jabatan lumayan di pemerintahan. Rasanya mereka benar-benar berkecukupan menurutku.

Sekali lagi mereka memang orang baik dan sangat baik. Anaknya saja sudah sangat dekat denganku. Aku bagai saudara kandung baginya. Meski umurku hanya terpaut beberapa hari darinya. Namun ia terlihat manja padaku. Ah, mungkin karena ia anak tunggal sama sepertiku.

Ridho selalu membawaku kemana saja jika dia ingin ditemani. Bahkan menemani dia main game dan tidur di rumahnya. Sudah seperti saudara, makan dan tidur bersama.

Kadang aku malah merasa bersalah sama ibu karena sering tidak pulang. Gara-gara diajak main sama Ridho dan ketiduran di rumahnya.

Gubukku beberapa kali diperbaiki pak Andi. Ibu Ani pun beberapa kali tepatnya selalu mengantar masakan ke ibuku. Padahal ia adalah wanita yang cukup sibuk, tapi sering masak dan selalu melebihkannya untuk kami.

Ibu sering merasa sangat malu dengan kebaikan bu Ani. Kaya, cantik dan juga baik. Ibu, kadang-kadang membantu beliau mencuci dan beberapa pekerjaan rumah lainnya.

Entahlah, kapan aku bisa baik seperti mereka. Beberapa kali jiwaku merenggut malu dengan kebaikan mereka.

“Defan, sini bantu bapak ambil gula untuk buk Isah.” Panggil pak Andi membuyarkan lamunanku.

“Iya pak, berapa kilo?” Tanyaku sedikit gugu.

“Empat kilo aja nak Defan.” Bu Isah menimpali dengan tersenyum padaku. Aku yakin bu Isah tersenyum karena melihat tingkahku yang gugu setelah melamun.

Kuberikan empat bungkus gula satu kiloan ke bu Isah yang masih tersenyum. Setelah mengucap terimakasih bu Isah berlalu sambil membayar belanjaannya ke pak Andi.

Bu Isah tetangga beberapa rumah dari gubukku yang di tengah sawah. Sering jadi teman ibu saat kongsian di sawah. Bu Isah sering menggodaku dengan panggilan mantu.

Iya, bu Isah punya anak perempuan yang baru saja kuliah semester 2 di sebuah fakultas negeri di kota tempatku tinggal.

Sebenarnya, kak Rani jauh lebih tua dariku beberapa tahun. Tapi tetap saja bu Isah menggodaku dan menjodoh-jodohkan dengan kak Rani.

Ah dasar ibu-ibu, aku membatin setelah beliau berlalu dan menghilang di belokan. Kalau dipikir-pikir kak Rani memang sangatlah cantik menurutku.

Selain ramah dan penyapa. Kak Rani juga multi talenta. Beberapa kali kulihat ia ikut lomba nyanyi. Kadang tingkat kabupaten, bahkan provinsi.

Rasanya, terlalu tinggi jika ku berharap pada kak Rani. Dibanding aku yang hanya anak putus sekolah. Lagi pula aku sering melihat kak Rani diantar pria bermoge saat pulang ke rumah. Nah aku? Hanya jalan kaki kemana-mana.

“Dek Defan…” Suara kak Rani tiba-tiba memanggilku dari seberang jalan. Dibonceng pria yang selalu mengantarnya pulang. Kak Rani menyapaku tanpa berhenti.

Ia tersenyum lebar padaku sambil melambaikan tangannya. Ku lihat pria itu juga menoleh padaku. Aku tak bisa menerka ekpresinya, karena helem full face warna merah hitam menutupi wajahnya. Hanya kulihat kak Rani seperti mencubit pinggang pria itu dan berlalu.

Ah dunia, kenapa lamunanku menggoyahkan otakku yang kaku. Perlahan kucoba hapus bayang-bayang semu itu. Setelah kulihat Ridho melambai dari jendela kamar padaku. Telanjang dada dan bisa ku tebak anak manja itu pasti baru saja pulang sekolah.

Bersambung…

Guntal adalah portal media online yang terinspirasi dari pesona dan keelokan gunung Talang. Menyajikan informasi terbaik dengan gaya terbaik.